
Di tengah masa lockdown Covid-19 yang membuat jutaan pelajar di seluruh dunia kehilangan semangat belajar, seorang remaja putri asal Nablus, Palestina, justru memilih jalan yang berbeda. Namanya Taqwa Zahir. Usianya baru 15 tahun, tetapi tekadnya melampaui banyak orang dewasa.
Ketika sekolah ditutup, aktivitas sosial dibatasi, dan rasa cemas menyelimuti banyak keluarga, Taqwa memutuskan untuk mengunci diri bersama Al-Qur’an. Hari-harinya diisi dengan disiplin tinggi: membaca, menghafal, mengulang, dan memperbaiki bacaan—tanpa panggung, tanpa sorotan, tanpa keluhan. Hasilnya mencengangkan: 30 juz Al-Qur’an tuntas dihafal hanya dalam waktu sekitar 6 bulan.
Kisah ini bukan sekadar soal kecepatan menghafal. Di Palestina—wilayah yang sejak lama hidup di bawah tekanan konflik—anak-anak tumbuh dengan keterbatasan ruang, waktu, dan rasa aman. Namun justru dari kondisi itulah lahir cerita keteguhan. Bagi Taqwa, lockdown bukan alasan untuk menyerah, melainkan kesempatan untuk mendekatkan diri pada nilai spiritual dan membangun disiplin diri.
Media-media internasional dan regional menyoroti kisah serupa dari Palestina selama pandemi: bagaimana keluarga dan lembaga pendidikan lokal mendorong anak-anak memanfaatkan masa karantina untuk pendidikan agama dan pembinaan karakter. Para pendidik menilai, keberhasilan seperti yang diraih Taqwa tidak lepas dari dukungan keluarga, pola belajar terstruktur, dan lingkungan yang menanamkan kesabaran serta konsistensi.
Di saat banyak orang berkata, “Pandemi merenggut masa depan,” kisah Taqwa justru berbisik lantang: masa sulit bisa menjadi titik balik—jika diisi dengan niat dan usaha yang tepat.
Pertanyaannya kini bukan tentang seberapa berat keadaan kita, tetapi apa yang kita lakukan ketika dunia memaksa kita berhenti sejenak.
Sumber kredibel (untuk pendalaman):
Laporan media internasional tentang pendidikan dan hafalan Al-Qur’an di Palestina selama pandemi (mis. Al Jazeera, Anadolu Agency, Middle East Eye).
#Adaapadisini